ㅤㅤ 𖤍. GNHSCHOOL ’’
#EP1 ─ MEMORIES OF THE PAST
-----------------------------
𔒝 .. STORY BY GNHSCHOOL
Sebuah jam tua berdetak di tengah kegelapan, jarumnya perlahan bergerak seolah enggan meninggalkan masa lalu. Tak ada suara lain selain dentingnya yang teratur—datar, dingin, tak terganggu oleh apapun. Waktu seperti tertahan di tempat itu, menggantung di antara kenangan yang belum selesai.
Lima pintu usang berdiri berjajar di lorong gelap. Catnya mengelupas, kayunya lembap dan mulai membusuk, seakan menanggung beban terlalu banyak cerita yang tak pernah benar-benar selesai. Mereka berdiri diam, seperti menunggu seseorang untuk membukanya kembali—seseorang yang masih mengingat.
Langkah kaki terdengar, pelan tapi pasti. Seorang perempuan muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan seragam sekolah yang terlihat asing pada tubuhnya yang kini dewasa. Rambutnya tergerai, matanya menatap ke depan tanpa ragu. Tak ada ketakutan di wajahnya, hanya keingintahuan dan sisa-sisa luka yang lama tersembunyi.
Ia berjalan melewati kelima pintu itu tanpa membuka satu pun. Lorong demi lorong ia lewati, seolah digerakkan oleh sesuatu yang tak tampak. Setiap dinding berbisik—tentang tawa yang dulu ada, tangis yang disembunyikan di balik buku pelajaran, dan mimpi-mimpi kecil yang pernah tumbuh di tempat itu.
Gedung tua itu bukan sekadar bangunan—ia adalah kuburan waktu. Setiap sudutnya menyimpan potongan-potongan diri yang telah ia tinggalkan. Tapi hari ini, ia kembali. Bukan untuk menghidupkan masa lalu, melainkan untuk mengakuinya.
Tak sekalipun ia berhenti. Tak sekalipun ia menoleh. Ia terus berjalan, menembus gelap, menembus sunyi, menembus waktu yang tak lagi bisa disentuh.
Dan ketika ia hilang dalam lorong terakhir, jam tua itu berdetak satu kali lebih keras dari biasanya.
Seolah menandakan: perjalanan itu telah selesai.
#EP1 ─ MEMORIES OF THE PAST
-----------------------------
𔒝 .. STORY BY GNHSCHOOL
Sebuah jam tua berdetak di tengah kegelapan, jarumnya perlahan bergerak seolah enggan meninggalkan masa lalu. Tak ada suara lain selain dentingnya yang teratur—datar, dingin, tak terganggu oleh apapun. Waktu seperti tertahan di tempat itu, menggantung di antara kenangan yang belum selesai.
Lima pintu usang berdiri berjajar di lorong gelap. Catnya mengelupas, kayunya lembap dan mulai membusuk, seakan menanggung beban terlalu banyak cerita yang tak pernah benar-benar selesai. Mereka berdiri diam, seperti menunggu seseorang untuk membukanya kembali—seseorang yang masih mengingat.
Langkah kaki terdengar, pelan tapi pasti. Seorang perempuan muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan seragam sekolah yang terlihat asing pada tubuhnya yang kini dewasa. Rambutnya tergerai, matanya menatap ke depan tanpa ragu. Tak ada ketakutan di wajahnya, hanya keingintahuan dan sisa-sisa luka yang lama tersembunyi.
Ia berjalan melewati kelima pintu itu tanpa membuka satu pun. Lorong demi lorong ia lewati, seolah digerakkan oleh sesuatu yang tak tampak. Setiap dinding berbisik—tentang tawa yang dulu ada, tangis yang disembunyikan di balik buku pelajaran, dan mimpi-mimpi kecil yang pernah tumbuh di tempat itu.
Gedung tua itu bukan sekadar bangunan—ia adalah kuburan waktu. Setiap sudutnya menyimpan potongan-potongan diri yang telah ia tinggalkan. Tapi hari ini, ia kembali. Bukan untuk menghidupkan masa lalu, melainkan untuk mengakuinya.
Tak sekalipun ia berhenti. Tak sekalipun ia menoleh. Ia terus berjalan, menembus gelap, menembus sunyi, menembus waktu yang tak lagi bisa disentuh.
Dan ketika ia hilang dalam lorong terakhir, jam tua itu berdetak satu kali lebih keras dari biasanya.
Seolah menandakan: perjalanan itu telah selesai.