[ HIRLAT ] π—–π—œπ—₯π—–π—¨π—Ÿπ—’π—¦ π—šπ—˜π—‘-𝗭
9.78K subscribers
1.83K photos
332 videos
289 files
221 links
𝗛𝗔𝗑𝗬𝗔 𝗔𝗗𝗔 π——π—œ π—Ÿπ—”π—£π—”π—ž π—§π—˜π—Ÿπ—˜π—šπ—₯𝗔𝗠

β«· MARKED. UNLEASHED. DEAD OR. FEARED. β«Έ

CH OFC: @CIGEZOFC
CH ADM : @SHITPOSTCIGEZ
BOT OFC : @cigezbot
CH ARSIP : @ARSIPCIGEZ
BOT MPPS : @mppsCIGEZbot


βγ€Œ Since 13 December 2022 γ€βž
Download Telegram
Lima Hubungan Kosmik Antara Bulan dan Lautan



Penyu laut, ikan karang, dan karang mengikuti Bulan.
Selama jutaan tahun, makhluk-makhluk di lautan telah berevolusi untuk beradaptasi dengan perubahan habitat pasang surut yang disebabkan oleh gravitasi Bulan – tetapi cahaya bulan saja memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan laut. Di terumbu karang, misalnya, ikan bidadari dan ikan kupu-kupu telah diamati mencari makan sepanjang malam di bawah cahaya Bulan purnama. Karang sendiri menggunakan siklus bulan untuk mengatur waktu pemijahan mereka, memastikan bahwa semua telur dilepaskan pada saat yang sama dan dibawa lebih jauh oleh pasang surut yang lebih kuat. Bayi penyu, yang muncul dari sarang berpasir mereka, mencari cahaya Bulan yang berkilauan dari ombak untuk membimbing mereka menyusuri pantai menuju laut. Itulah salah satu alasan mengapa resor pantai, dengan lampu buatannya, bisa sangat berbahaya – membingungkan penyu yang baru menetas dan mengarahkan mereka ke arah yang salah.
Lima Hubungan Kosmik Antara Bulan dan Lautan



Ada β€œsamudra, laut, dan badai” di Bulan.
Pada tahun 1650-an, ketika manusia pertama kali mengamati Bulan secara detail melalui teleskop-teleskop awal, para astronom seperti Giovanni Battista Riccioli membayangkan bercak-bercak gelap tersebut sebagai lautan dan samudra luas di permukaan Bulan. Karena berada di era yang lebih romantis, 'maria' Bulan – yang sekarang kita ketahui terbentuk oleh aliran lava – dinamai Laut Kepulauan, Laut Berbusa, Laut Ombak, Laut Nektar, Laut Badai, dan Laut Ketenangan – tempat Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat 50 tahun yang lalu dan mendirikan 'Pangkalan Ketenangan'.
Lima Hubungan Kosmik Antara Bulan dan Lautan



'Cahaya bulan'
Pernahkah Anda menatap Bulan sabit dan hampir membayangkan bisa melihat keseluruhannya? Itu bukan tipuan mata Anda. Itu adalah fenomena yang disebut 'Earthshine' – atau 'Planetshine' ketika terjadi di tempat lain di Tata Surya. Di Bulan kita, bagian gelap yang redup yang terkadang Anda lihat disebabkan oleh pantulan Matahari dari lautan, es laut, dan awan di dunia seperti cermin raksasa, dan redup menerangi bagian Bulan yang seharusnya tidak terlihat – seperti pada foto di atas. Itu adalah pengingat indah bahwa kita hidup di planet air, melayang di antara bintang-bintang.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎀Hubungan antara Bulan dan lautan selalu terlihat sederhana… tapi semakin kita pelajari, semakin jelas bahwa ada ikatan kosmik yang jauh lebih dalam dari sekadar pasang surut. Lima fakta tadi cuma sedikit dari misteri besar yang menghubungkan langit dan laut, dua elemen yang terus saling berbicara sejak bumi pertama kali terbentuk.

Saya Hiraeja J’Pamex [ πŸͺΌ ] izin undur diri dalam konten malam ini. Terima kasih sudah bertahan sampai akhir. Ingat… setiap ombak yang datang mungkin membawa jejak gerakan Bulan, dan setiap malam Bulan bersinar, ada rahasia laut yang ikut berbisik. Sampai jumpa di #VSGZ misteri berikutnya!
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Pernahkah kamu berpikir ❓❔❓Bagaimana kalau semua yang kamu lihat, rasakan, dan alami saat ini bukanlah dunia nyata, melainkan program yang sangat kompleks? ?

Kedengarannya seperti film The Matrix, ya? Tapi ide bahwa dunia ini mungkin hanyalah simulasi komputer raksasa bukan cuma fiksi, ini adalah hipotesis ilmiah dan filsafat modern yang benar-benar dibahas oleh para ilmuwan dan filsuf πŸ€“

Selamat datang di #VSGZ πŸ“–, tempat kita membongkar pertanyaan besar dengan cara yang sederhana. Bersama Malrick D'Ares [🎧], kita akan membahas:
Benarkah dunia ini bisa jadi simulasi?

Jangan kemana mana, tetap pantengin channel @OFCCYGENZ agar tak ketinggalan pembahasan nya ‼️
1. Asal Mula Gagasan: Dari Filsafat ke Sains


Ide tentang dunia sebagai ilusi sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Filsuf Yunani seperti Plato pernah menulis alegori β€œgua”, di mana manusia hanya melihat bayangan realitas sejati di dinding.

Tapi versi modernnya datang dari seorang filsuf Oxford bernama Nick Bostrom, lewat esainya tahun 2003 yang berjudul β€œAre You Living in a Computer Simulation?”. Wah, judul yang sanhat menarik ya πŸ€”
Dalam tulisannya, Bostrom berargumen bahwa setidaknya satu dari tiga hal berikut harus benar:

1. Peradaban manusia akan punah sebelum cukup maju untuk menciptakan simulasi kesadaran.

2. Peradaban maju tidak tertarik membuat simulasi semacam itu.

3. Atau… kita sudah hidup di dalam simulasi itu sekarang.
2. Logika di Balik Hipotesis Simulasi


Bostrom memulai dari asumsi sederhana:
"kalau manusia bisa menciptakan simulasi yang realistis suatu hari nanti, misalnya lewat kecerdasan buatan, realitas virtual, atau komputer kuantum, maka mereka bisa membuat dunia yang nyaris tak terbedakan dari kenyataan."

Nah, kalau itu bisa dilakukan, bukan tidak mungkin makhluk yang hidup di dalam simulasi itu tidak sadar bahwa mereka sedang disimulasikan πŸ€–

Dan kalau satu peradaban saja bisa membuat miliaran simulasi, berarti kemungkinan kita hidup di dunia asli justru lebih kecil daripada kemungkinan kita hidup di salah satu simulasi itu
3. Apa Kata Sains Tentang Ini?


Para ilmuwan membahas hipotesis ini dengan serius.

Fisikawan seperti Elon Musk (ya, ia sering bicara soal ini) dan Neil deGrasse Tyson mengatakan bahwa peluang kita hidup dalam simulasi mungkin sangat besar.

Beberapa fisikawan kuantum bahkan mencoba mencari β€œbukti”. Seperti pola aneh pada energi partikel, batas resolusi ruang-waktu, atau kesalahan numerik pada hukum fisika.

Tapi sampai saat ini, belum ada bukti yang benar-benar meyakinkan.
Dunia ini tetap berjalan dengan hukum alam yang sangat konsisten, tanpa β€œbug” yang bisa membongkar sistemnya.

Dengan kata lain, kalau ini simulasi, sistemnya sempurna.
4. Perspektif Filosofis: Apa Bedanya Kalau Memang Simulasi?


Pertanyaan menariknya bukan cuma β€œapakah ini simulasi”, tapi β€œkalau iya, apa artinya buat kita?”.

Kalau kesadaran kita adalah hasil program, apakah itu membuat emosi kita palsu? Apakah cinta, rasa sakit, dan kebahagiaan masih bermakna kalau semuanya hanya algoritma? πŸ€”β“