Boycott your app <3
54 subscribers
94 photos
1 link
Download Telegram
This second of proof decisively debunks starbucks' proud "C.A.F.E. Practices" claim on its app
1
An in-depth investigative report revealed that their supply chain in yunnan coffee plantations is involved in so serious human rights violations. Investigasi menemukan adanya penggunaan tenaga kerja anak dengan temuan spesifik anak berusia 15 tahun yang dipekerjakan untuk menyortir biji kopi adalah sebuah pelanggaran fatal terhadap etika kemanusiaan global. Working conditions in the field are far from decent, workers are forced to work marathon hours for 12 hours a day, 7 days a week without a day off for months. Mereka juga terpapar bahan kimia pertanian tanpa perlindungan memadai, sementara upah yang mereka terima sangat minim dan sering kali di bawah standar hidup layak
1
Through a multi-layered system of intermediary suppliers, this corporation appears to be allowing the practice of "coffee laundering" from illegal plantations so that it can continue to obtain cheap raw materials while continuing to sell an "ethical" narrative to its consumers
1
By the end of 2025, starbucks was forced to undertake a major restructuring and close various strategic stores including their most iconic flagship roastery location in seattle
1
Fakta penutupan gerai ikonik di seattle dan chicago menjadi bukti konkret bahwa guncangan ekonomi yang dialami starbucks bukan fluktuasi pasar biasa. Penutupan lokasi strategis ini mencerminkan kegagalan operasional yang mendalam, di mana reuters mencatat bahwa banyak dari gerai yang ditargetkan untuk ditutup justru merupakan tempat di mana para pekerjanya aktif berserikat melalui starbucks workers united. Kondisi finansial perusahaan pun ada dititik yang sangat rentan setelah mengalami penurunan penjualan selama enam kuartal berturut-turut hingga memaksa CEO baru mereka mengalokasikan dana fantastis sebesar 15,7 Triliun Rupiah hanya untuk mencoba memulihkan citra merek yang sudah terlanjur cacat di mata publik
1😭1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
11. McDonald's App

Seperti halnya starbucks, aplikasi ini juga masuk kedalam daftar boikot terkait dengan kebijakan kontroversial mereka di wilayah konflik dan eksploitasi di balik sistem franchise globalnya. Salah satu pemicu utama boikot massal terhadap McDonald's adalah tindakan cabang mereka di wilayah konflik yang secara terbuka memberikan ribuan paket makanan gratis kepada unit militer selama masa krisis kemanusiaan. Tindakan ini memicu kemarahan global karena dianggap sebagai dukungan langsung terhadap operasi militer yang kemudian memaksa kantor pusat McDonald's Corporation untuk membeli kembali seluruh gerai dari pemegang lisensi di wilayah tersebut demi meredam kerugian finansial yang masif akibat boikot di seluruh dunia
1
Selain isu geopolitik, McDonald's juga terus dikritik atas praktik ketenagakerjaan yang buruk di berbagai negara. Melalui aplikasi dan model bisnisnya, perusahaan sering menekan biaya operasional dengan memberikan upah yang sangat minim kepada para pekerja di garis depan, sementara jajaran eksekutif mereka tetap menikmati bonus tahunan yang fantastis. Gerakan boikot ini telah terbukti memberikan dampak nyata di mana CEO McDonald's sendiri mengakui adanya hambatan bisnis yang signifikan di wilayah Timur Tengah dan beberapa negara Asia akibat reaksi keras dari konsumen yang menuntut tanggung jawab etis
1
Bukti pertama adalah tindakan unit McDonald's Israel (Alonyal Ltd.) yang secara terbuka memberikan ribuan paket makanan gratis kepada militer selama masa konflik di Oktober 2023. Meskipun McDonald's Corporation mencoba menjaga jarak dengan alasan "keputusan mandiri pemegang lisensi," tekanan global yang masif akhirnya memaksa kantor pusat untuk membeli kembali (buyback) seluruh 225 gerai di wilayah tersebut pada April 2024 demi menyelamatkan citra merek mereka yang sudah hancur di mata konsumen muslim dan pendukung kemanusiaan
1