Boycott your application <3
51 subscribers
94 photos
1 link
Download Telegram
Dan masalah utama yang terus berulang adalah penurunan tarif per kilometer dan pemotongan komisi yang semakin besar, yang sering kali dilakukan secara sepihak oleh perusahaan. This forces partners to work far beyond normal working hours, often up to 12 or 16 hours a day, just to meet "bonus" targets or simply cover operational vehicle. Kondisi kerja secara teknis ini dapat dikategorikan sebagai eksploitasi, karena adanya ketimpangan kuasa di mana pekerja menanggung seluruh risiko modal dan kesehatan. Sementara korporasi meraup keuntungan dari setiap transaksi tanpa memberikan jaminan upah minimum atau asuransi kesehatan yang memadai
❀2πŸ”₯2
Selain itu, status "mitra" juga digunakan sebagai celah hukum untuk menghindari kewajiban memberikan hak-hak ketenagakerjaan yang layak. Di bawah naungan grup goto, meskipun perusahaan ini sering mengampanyekan keberpihakan pada UMKM dan ekonomi kerakyatan, realita di lapangan menunjukkan bahwa sistem rating dan algoritma sering kali bersifat menghukum bagi pengemudi. Aksi protes massa yang dilakukan oleh ribuan driver ojek online di berbagai kota di Indonesia yang melibatkan baik mitra grab maupun gojek menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap ketidakadilan skema tarif ini bersifat sistemik dan lintas platform
❀1πŸ”₯1πŸ†1
Jika kita melihat dari sisi investor, gojek juga menerima pendanaan besar dari google dan investor global lainnya yang memiliki irisan kepentingan serupa dengan yang kita bahas pada kasus youtube. Artinya dari segi etika ekonomi global, gojek tidak sepenuhnya "bersih" dari pusaran modal yang juga mendanai teknologi militer atau pengawasan. Memilih gojek sebagai alternatif boikot grab mungkin ngerasa lebih lokal, namun secara substansi perlindungan hak pekerja kedua platform ini masih memiliki rapor merah yang harus terus kita suarakan agar terjadi perubahan kebijakan yang lebih manusiawi
πŸ”₯2❀1😒1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
That’s a wrap for today. Thank you for listening and daring to open your eyes to the realities behind the scenes of the platforms we use everyday. Let's stay critical, stay vigilant, and don't let the big narrative silence our conscience in fighting for rights that should be non-negotiable. Have a good night 🀍
❀3πŸ”₯1πŸ†1
Kalo masih ada yang mau ditanyain boleh ke bot aja ya @BoycottApplicationsBot
Hi, siapa udah siap aku membahas aplikasi yang kena boycott lagi? Coba react
❀4❀‍πŸ”₯1πŸ”₯1
Tapi sebelum itu, izinkan aku untuk menjawab pertanyaan dulu ya mentemen
πŸ”₯2❀1πŸ’˜1
πŸ‘€ StopHate itu boikot pengiklan, bkn user. Di korporasi, profit turun pasti memicu efisiensi pekerja dlu. Solusi riilnya?

Sebenarnya ya boikot pengiklan or pengguna itu aslinya sama-sama bertujuan untuk memutuskan rantai pendanaan yang bermasalah kok. Dan emang bener efisiensi sering menjadi langkah pertama korporasi namun itu justru menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dari kita berhasil memaksa mereka berhitung ulang. The real solution is not simply to stop using the service, but to encourage a transition to more ethical alternative platforms and to push for stronger worker protection regulations. Dengan begitu kita ga nekenin korporasi yang abai, justru bakal membantu juga karena udah membangun ekosistem ekonomi baru yang lebih adil bagi para pekerjanya
πŸ”₯5
Good question nih
Jujur pindah dari grab ke gojek itu gak menyelesaikan akar masalah eksploitasi, karena keduanya beroperasi di dalam sistem gig economy yang sama meskipun ada perbedaan kebijakan kecil di antara keduanya. Model bisnis mereka akan tetap mengandalkan status "mitra" untuk menghindari kewajiban memberikan upah minimum, jaminan kesehatan, dan pesangon bagi pengemudi
πŸ”₯2❀1
And technically, kalian cuma berpindah dari satu korporasi raksasa ke korporasi raksasa lainnya yang sama-sama membebankan risiko operasional (bensin, servis kendaraan, kecelakaan) sepenuhnya ke pekerja. Sementara perusahaan ngambil potongan komisi yang besar dari setiap transaksi
❀1πŸ”₯1
Kalo tujuannya untuk memprotes kebijakan etis spesifik grab terkait isu kemanusiaan, pindah ke gojek bisa menjadi langkah taktis sementara. Tapi kalo tujuannya untuk melawan eksploitasi pekerja, gojek bukan solusinya karena mereka menggunakan skema algoritma, sistem rating, dan pemangkasan insentif yang secara substansi setara dengan grab
πŸ”₯2😒1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Hi everyone! Today I'm going to discuss a specific legal app that has officially been placed on the boycott list. Please pay close attention to the details I'm about to share
πŸ”₯4❀2
10. Starbucks App

Starbucks sering mencitrakan diri sebagai perusahaan yang progresif, namun di balik layar they have a dark record when it comes to dealing with their own employees. As of 2026, starbucks continues to face hundreds of allegations of labor law violations in various countries. Mereka dikenal sangat agresif dalam melakukan tindakan yang menghalang-halangi pekerja untuk berserikat demi menuntut upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi. Kasus yang paling gong adalah ketika perusahaan justru menggugat serikat pekerjanya sendiri: starbucks workers united, tak lama setelah para pekerja tersebut menyatakan solidaritas terhadap isu kemanusiaan. This action shows that for Starbucks, the voices of workers demanding justice (both for themselves and for global issues) are considered a threat to the company's image and company profits
❀1
Dan banyak yang belum tau bahwa pada awal 2024 starbucks menghadapi tuntutan hukum besar terkait penipuan konsumen. Selama bertahun-tahun, mereka memasarkan produknya sebagai hasil 100% perdagangan etis. Namun investigasi independen justru menemukan bukti adanya penggunaan tenaga kerja anak dan praktik kerja yang menyerupai perbudakan di perkebunan kopi pemasok mereka mulai dari guatemala hingga brasil, this proves that the "ethical" promises they sell on the app are just a marketing strategy to cover up the exploitation that occurs at the grassroots level
❀1
Meskipun starbucks secara resmi menyatakan netralitas, but data shows that major shareholders and their former leadership have close financial ties to entities that support military operations in conflict zones. Tekanan boikot global yang masif termasuk di Indonesia tersebut telah menyebabkan starbucks kehilangan nilai pasar sehingga miliaran dolar and forced them to close hundreds of outlets in various regions
❀1
The first proof is a so aggressive anti-worker attitude. Based on federal law decision (JD-80-25), starbucks was found to have legally violated labor laws by unilaterally firing employees simply because they fought for their rights in the union. Puncaknya di akhir 2023, starbucks bahkan tega menggugat serikat pekerjanya sendiri dengan alasan 'pelanggaran merek dagang' hanya karena serikat tersebut mengunggah pesan solidaritas terhadap isu kemanusiaan
😒1