[] Let's share the awareness
786 subscribers
45 photos
1 file
18 links
@
Download Telegram
Kalau framing ini dibiarkan, maka kasusnya akan diarahkan ke dua jalur yang aman.
Pertama, jalur etik di internal Polri. Hasilnya mungkin dicap pelanggaran berat, tapi sanksinya paling banter mutasi non-job, penundaan pangkat, atau PTDH. Selesai di meja sendiri. Atau sama sekali nggak masuk ke meja pidana.
Kedua, jalur pidana. Tapi bukan ke pasal pembunuhan, melainkan Pasal 359 KUHPβ€”kelalaian yang menyebabkan orang meninggal. Ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Ringan sekali, untuk nyawa seorang rakyat.
Di sinilah bahayanya. Kalau kasus jatuh ke 359, maka potensi hukumannya bisa sangat ringan, bahkan 2–3 tahun saja.
Dan biasanya, selalu ada alasan klasik "ini bagian dari tugas negara, situasi chaos, tidak bisa dihindari."
Yang lebih parah, tanggung jawab komando bisa hilang sama sekali. Siapa yang kasih perintah? Kenapa prosedur bisa gagal? Itu bisa lenyap dari sorotan publik.
Bahasa resmi aparat sering dipakai untuk membentuk bingkai awal kasus. Kalau publik diam, framing itu akan jadi rujukan resmi polisi, jaksa, sampai hakim. Tapi kalau publik kritis, suara rakyat bisa memaksa agar bukti diuji, saksi dihadirkan, dan perintah komando diusut
πŸ‘10
Kalau institusi membiarkan narasi kelalaian menutup fakta di video, maka yang gagal bukan individu, tapi sistem hukum kita.
πŸ‘10
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Serius nanya, bahasa yang aku gunakan sudah bisa dipahami belum? Kalau misal bahasanya masih susah dimengerti, nanti aku coba buat mempermudah penjelasan lagi. Karena disini emang tujuannya edukasi buat orang yang awam soal hukum biar jadi paham.
πŸ‘17
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Ini temen temen sudah paham soal point tuntutan ditransparansi, dan alasannya, atau perlu aku bantu jelaskan?
πŸ‘19
[] Let's share the awareness
Ini temen temen sudah paham soal point tuntutan ditransparansi, dan alasannya, atau perlu aku bantu jelaskan?
Pertama, soal transparansi tunjangan.
Bayangin, DPR dapat banyak pos, tunjangan beras, komunikasi, rumah dinas, dan lain-lain. Semua itu dari pajak rakyat. Harusnya, ada audit independen dan hasilnya dibuka ke publik
Kedua, transparansi reses.
Reses itu kan momen wakil rakyat β€œturun ke dapil.” Tapi faktanya, publik jarang banget tahu jadwalnya, hasilnya, apalagi biaya yang dikeluarkan. Padahal uangnya gede.
πŸ‘2
Kalau DPR serius, harusnya ada laporan: berapa kali turun lapangan, apa hasilnya, apa manfaatnya. Kalau nggak ada laporan jelas, reses itu cuma jadi liburan pakai uang negara.
Ketiga, akses publik yang mudah.
Ini poin krusial. Kenapa rakyat harus ribet minta-minta data ke DPR? Harusnya ada portal resmi, update rutin, yang bisa dicek siapa saja, kapan saja.
Kalau transparan, mestinya DPR sendiri bangga pamer hasil kerjanya, bukan malah sembunyi-sembunyi.
Keempat, sanksi untuk pelanggaran.
Kalau ada anggota yang menolak transparan, jangan cuma ditegur. Kasih sanksi nyata: potong tunjangan, laporkan ke publik biar rakyat tahu siapa yang melawan keterbukaan.
Transparansi itu bukan ancaman bagi pejabat yang jujur. Transparansi justru pelindung buat yang bekerja beneran, data itu jadi bukti kerja nyata. Yang takut transparan biasanya karena ada yang disembunyikan. Jadi sebenernya hal kaya gini harusnya emang jadi langkah sejak awal.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Sebenernya masih banyak tuntutan yang lain, mau dibahas yang mana dulu?