Hi, We’re Voscade.
23.8K subscribers
2.8K photos
185 videos
360 files
588 links
R!NG OF FIRE USED FOR THE CURRENTS 227 WHEEL. Rotates in the highway’s for road warning Voscade craft 10.06.2022 is bends and the barriers onto. 📲

GLITCH : @VOSCASIDE
SOURCE : @VOSCADEBOT
DOMAIN : @VOSCAMPPSBOT

SWÖRN-GANG “Unity On The Wild Track.”
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🍒. Haloo Voskidz! Pasti udah ga asing lagi sama aku kan? And yepp Im Kaninna Ayoura, many peoples calling me Kanin for short, but feel free if you guys want to call me pretty instead😉

🍒. Malam ini aku menjadi narasumber dari topik menarik yaitu tentang kegagalan, waduh pasti udah ga sabar kan? Tentunya aku nggak sendirian di sini, aku ditemenin sama cowok ganteng nih kenalan dong!
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🕷 Halo Voskidz! Waduh, dibilang ganteng jadi agak salting juga nih. Tapi kenalin, gua Hathersón Ethne P. partner podcast Kanin hari ini. Kalian boleh panggil gua Hathersón, atau apa aja yang kalian rasa nyaman buat manggil gua

🕷 Seneng bisa nemenin kalian di sini bareng Kanin. Jadi siapin telinga kalian ya, karena hari ini kita bakal ngobrol santai tentang hal yang mungkin sering dialamin banyak orang—gagal dikit, gapapa
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎙⋆ Wah, perkenalannya seru juga! Terima kasih buat Kanin dan Hathersón yang sudah bergabung di podcast kali ini. Senang banget bisa dengar energi kalian di sini. Sekarang kita langsung masuk ke pembahasan yang mungkin relate buat banyak orang, yaitu saat kita merasa harus terlihat "𝗕𝗮𝗶𝗸-𝗯𝗮𝗶𝗸 𝘀𝗮𝗷𝗮" di depan orang lain, meskipun kenyataannya tidak selalu begitu.

🎙⋆ Jadi pertanyaan pertama untuk kalian berdua : Pernah nggak sih kalian pura-pura terlihat sukses supaya nggak dianggap gagal oleh orang lain?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🍒. Kalau ditanya begitu, jujur aja… bohong kalau aku bilang nggak pernah. Kadang kita memang berusaha terlihat lebih "𝗕𝗮𝗶𝗸" di depan orang lain supaya nggak dianggap gagal. Soalnya yang sering dilihat orang itu cuma hasil akhirnya, bukan proses yang kita jalanin.

🍒. Orang lain biasanya cuma peduli sama pencapaian kita, bukan seberapa banyak usaha atau kerja keras yang kita lakukan untuk sampai ke titik itu. Jadi nggak jarang juga orang akhirnya menutupi kegagalannya, atau setidaknya berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎙⋆ Wah, itu jujur banget sih jawabannya. Kadang memang yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

🎙⋆ Sekarang kita lanjut ke pertanyaan kedua yang juga sering jadi pembahasan di kalangan anak muda. Banyak dari kita yang tumbuh dengan berbagai harapan dari orang tua. Menurut kalian, ekspektasi dari orang tua itu lebih terasa sebagai dukungan atau justru tekanan?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🍒. Sebenarnya menurut aku itu tergantung situasi dan cara penyampaiannya sih. Kalau dalam kondisi keluarga atau ekonomi yang cukup berat, ekspektasi orang tua kadang bisa terasa seperti tekanan. Karena kalau kita gagal, rasanya taruhannya besar dan kita takut mengecewakan mereka.

🍒. Tapi kalau kondisi keluarga dan ekonomi cukup baik, biasanya ekspektasi itu lebih terasa sebagai dukungan. Karena orang tua juga cenderung membantu membimbing kita supaya bisa mencapai harapan tersebut.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎙⋆ Menarik juga ya sudut pandangnya. Jadi ternyata makna dari ekspektasi itu bisa berbeda-beda, tergantung dari situasi masing-masing orang.

🎙⋆ Nah sekarang kita beralih ke Hathersón. Pertanyaan berikut ini mungkin pernah dialami banyak orang, terutama di era media sosial seperti sekarang. Apa momen pertama kamu sadar kalau kamu sedang membandingkan hidupmu dengan orang lain?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🕷 [] Kalau gua inget-inget, pertama kali sadar itu pas lagi scroll sosmed malem-malem. Awalnya biasa aja, cuma lihat story orang. Tapi lama-lama kok jadi kepikiran, "Dia udah sejauh itu ya, sedangkan gua masih di titik yang sama." Dari situ gua langsung mikir, oh ini gua lagi ngebandingin diri gua sama mereka. Padahal yang gua lihat cuma bagian bagusnya doang.

🕷 [] Tapi tetap aja rasanya kayak gua kurang, gua telat, dan gua ngga cukup. Dan yang bikin gua sadar, itu datangnya pelan. Ngga tiba-tiba iri, cuma hati jadi ngga tenang.. gelisah. Di situ gua paham, ternyata ngebandingin diri sendiri sama orang lain bisa bikin lu lupa sama proses lu sendiri.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎙⋆ Wah, itu relatable banget sih. Media sosial memang sering menampilkan versi terbaik dari hidup seseorang, tapi kita jarang melihat perjuangan di baliknya.

🎙⋆ Nah, dari situ muncul juga satu pertanyaan lagi yang nggak kalah menarik. Menurut kalian, tekanan sosial itu lebih berat datang dari keluarga atau dari lingkungan pertemanan?
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🕷 Menurut gua dua-duanya berat, cuma beda rasa. Kalau dari keluarga, tekanannya jauh lebih dalam. Karena ada harapan di situ. Kadang mereka sebenarnya ngga bermaksud menekan, tapi kita sendiri yang merasa harus memenuhi ekspektasi mereka. Ada rasa takut gagal dan mengecewakan. Kalau dari teman, biasanya lebih ke pembuktian diri. Lu pengen diterima, pengen dianggap setara, ngga mau kelihatan kalah. Apalagi kalau circle lu ambisius, itu bisa bikin lu nuntut diri sendiri buat berusaha lebih keras.

🕷 Tapi jujur aja, seringnya yang paling berat justru tekanan dari diri sendiri. Kadang orang lain santai aja, tapi kita yang bikin semuanya terasa besar di kepala kita. Karena kita berasa lagi lawan pikiran sendiri. Dan kadang.. itu lebih kejam dari tekanan siapa pun. Karena musuh paling berat emang sering datang dari diri kita sendiri.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM