Meskipun individu dengan disleksia kesulitan dalam belajar, penyakit ini ternyata tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang loh.
Dyslexia juga mempunyai tanda-tanda yang bisa kita ketahui dan itu tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Langsung kita cek, ini dia!
Penderita Dyslexia umumnya mengalami perkembangan bicara yang lebih lambat dibanding anak-anak seusianya. Jadi mereka sulit untuk berbicara, karena terhalang sama si Dyslexia ini.
Mereka juga kalau berbicara sering terbolak-balik menyebutkan sebuah kata. Lebih kelihatan kaya orang linglung sih ya.
Mereka juga kalau berbicara sering terbolak-balik menyebutkan sebuah kata. Lebih kelihatan kaya orang linglung sih ya.
Mereka kesukitan untuk memilih kata yang tepat dan agar maksudnya tersampaikan mereka cenderung sulit menyusun kata dengan benar.
Lalu kurang memahami kata-kata berima, contohnya “putri menari sendiri” atau "Ari berlari di pantai" juga umumnya mempunyai gangguan berbicara, sakit kepala atau terlambat membaca.
Dan pada remaja atau orang dewasa juga gejalanya menyerupai gejala pada anak. Diantaranya kesulitan membaca, termasuk membaca dengan keras dan lantang.
Mereka cenderung membaca dan menulis dengan lambat, lalu kesulitan mengeja kata bahkan nama mereka sendiri.
Si penderita Dyslexia ini biasanya selalu menghindari aktivitas yang melibatkan membaca. Lalu membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan tugas yang melibatkan membaca atau menulis.
Dan terakhir, mereka lebih lambat untuk menghafal dan mempelajari kosa kata baru.
Nah kalian tau gak sih, kalau Dyslexia itu ada beberapa cara mencegahnya, yaitu sebagai berikut
1.Mencegah Dyslexia secara total adalah hal yang hampir tidak bisa dilakukan. Namun tentunya, dengan diagnosis dini dan penanganan yang tepat, orangtua bisa meminimalisasi risiko kesulitan belajar dan perkembangan anak.
2.Menghindari celaan jika anak melakukan kesalahan saat membaca agar anak dapat memiliki kepercayaan diri.
3.Memperbanyak waktu membaca di rumah dan Membacakan buku untuk anak-anak.
Jadi Dyslexia ini juga ada metode penyembuhannya loh, yang pertama perawatannya itu dapat melalui terapi, intervensi pendidikan perorangan, rehabilitasi, terapi kerja, dan konseling psikologis.
Tetapi ada juga beberapa metode penyembuhan lainnya, yaitu:
Tetapi ada juga beberapa metode penyembuhan lainnya, yaitu:
Yang pertama ada Metode Multisensori.
Metode ini mendayagunakan kemampuan visual atau kemampuan penglihatan siswa, auditori atau kemampuan pendengaran, kinestetik atau kesadaran pada gerak dan juga taktil atau perabaan pada siswa. Untuk praktiknya, siswa diminta menuliskan huruf-huruf di udara dan di lantai, membentuk huruf dengan lilin (plastisin), atau dengan menuliskannya besar-besar di lembaran kertas.
Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan.
Metode ini mendayagunakan kemampuan visual atau kemampuan penglihatan siswa, auditori atau kemampuan pendengaran, kinestetik atau kesadaran pada gerak dan juga taktil atau perabaan pada siswa. Untuk praktiknya, siswa diminta menuliskan huruf-huruf di udara dan di lantai, membentuk huruf dengan lilin (plastisin), atau dengan menuliskannya besar-besar di lembaran kertas.
Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan.
Selanjutnya, yang kedua ada Metode Fonik (Bunyi)
Metode yang memanfaatkan kamampuan visual dan auditori anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyi bacaannya. Contoh, huruf B yang dibunyikan eb, huruf C dibunyikan ec, dan lain sebagainya.
Metode yang memanfaatkan kamampuan visual dan auditori anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyi bacaannya. Contoh, huruf B yang dibunyikan eb, huruf C dibunyikan ec, dan lain sebagainya.
Yang ketiga, ada Metode Linguistik.
Metode yang mengajarkan siswa disleksia mengenal kata secara utuh. Metode ini menekankan pada kata-kata yang mirip. Dengan adanya penekanan, diharapkan bisa membuat siswa mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan juga bunyinya.
Metode yang mengajarkan siswa disleksia mengenal kata secara utuh. Metode ini menekankan pada kata-kata yang mirip. Dengan adanya penekanan, diharapkan bisa membuat siswa mampu menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan juga bunyinya.
Yang keempat, ada Metode Fernald.
Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh siswa, dan setiap kata diajarkan secara utuh. Ada empat tahapan dalam metode ini. Pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Selanjutnya, siswa akan menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and kinesthetic). Ketika menelusuri tulisan tersebut, siswa melihat tulisan, dan mengucapkannya dengan keras.
Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh siswa, dan setiap kata diajarkan secara utuh. Ada empat tahapan dalam metode ini. Pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Selanjutnya, siswa akan menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and kinesthetic). Ketika menelusuri tulisan tersebut, siswa melihat tulisan, dan mengucapkannya dengan keras.
Proses semacam ini dilakukan secara berulang sehingga siswa dapat menulis kata tersebut dengan benar tanpa melihat contoh. Apabila siswa sudah berhasil menulis dan membaca dengan benar, bahan bacaan tersebut disimpan.
Di tahap kedua, siswa mempelajari tulisan guru dengan melihat cara guru menulis, sambil mengucapkannya. Pada tahapan ketiga, siswa mulai mempelajari kata-kata baru dengan melihat tulisan pada papan tulis atau tulisan cetak. Lalu, dilanjutkan dengan mengucapkan kata tersebut sebelum menuliskannya.
Di tahapan ini siswa mulai membaca tulisan dari buku. Pada tahap terakhir, siswa mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian dari kata yang sudah dipelajari.