II. Sebenarnya, lampu pijar bukanlah lampu pertama yang menggunakan listrik. Salah satunya adalah lampu yang menggunakan busur listrik telah dikembangkan pada awal abad ke-19. Pada tahun 1876 Pavel Yablochkov, seorang insinyur listrik Rusia, memperkenalkan lilin Yablochkov, yakni lampu busur yang memiliki batang karbon paralel. Lampu ini banyak digunakan dalam penerangan jalan untuk sementara waktu.
Sampai akhirnya, Thomas Alva Edison menciptakan lampu pijar yang telah disempurnakan pada tahun 1879. Penemuan ini dihasilkan di Laboratorium Edison-Menlo Park, Amerika. Mengutip penjelasan di Buku 1000+ Penemuan Menakjubkan di Dunia oleh Joseph Story, lampu pijar ini dapat dibilang sempurna karena bertahan paling lama, yakni selama 40 jam. Cahaya yang dipancarkan dari lampu milik Thomas Alva Edison juga tidak pecah dan sangat cerah.
Prinsip kerja dari lampu temuan Edison adalah dengan menghubung singkatkan listrik pada filamen karbon sehingga terjadi arus hubung singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Panas yang terjadi dibuat mencapai suhu tertentu agar filamen karbon tersebut berpijar dan mengeluarkan cahaya yang mencapai 3 watt.
Sampai akhirnya, Thomas Alva Edison menciptakan lampu pijar yang telah disempurnakan pada tahun 1879. Penemuan ini dihasilkan di Laboratorium Edison-Menlo Park, Amerika. Mengutip penjelasan di Buku 1000+ Penemuan Menakjubkan di Dunia oleh Joseph Story, lampu pijar ini dapat dibilang sempurna karena bertahan paling lama, yakni selama 40 jam. Cahaya yang dipancarkan dari lampu milik Thomas Alva Edison juga tidak pecah dan sangat cerah.
Prinsip kerja dari lampu temuan Edison adalah dengan menghubung singkatkan listrik pada filamen karbon sehingga terjadi arus hubung singkat yang mengakibatkan timbulnya panas. Panas yang terjadi dibuat mencapai suhu tertentu agar filamen karbon tersebut berpijar dan mengeluarkan cahaya yang mencapai 3 watt.
Jadi gimana nih friends, udah tau belum siapa penemu lampu dan gimana sedikit cerita Thomas Alva Edison menciptakan lampu pijar? Kalo sudah, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca konten malam kamis di hari rabu ini, semoga konten ini dapat menjadi sebuah pelajaran bagi kalian semua, see you next week ya, good night friends.
Engkau datang menembus dinding kegelapan Ketika jahiliyah menguasi zaman. Ketika dunia dilanda kesuraman hadirmu menjadi lentera penerang jalan. Hari kelam telah berganti terang dan bahagia bersama dengan kehadiran suri tauladan.
Hari ini menjadi hari dimana Allah SWT mengutus kekasihNya sebagai penyempurna akhlak manusia. Tabuh rebahan mengalun indah seirama. Keberadaannya membawa kebenaran dan kehadirannya menuntun kepada jalan kehidupan yang mulia.
Milad Nabi tak sekedar perayaan. Karena Rasulullah telah mengajarkan. Pedoman hidup untuk setiap insan. Akhlakul karimah yang harus diimplementasikan. Selamat menyambut Maulid Rasul 1444 Hijriah. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang amanah, sebagaimana sifat Nabi yang dapat dipercaya dan senantiasa memegang janjinya. #𝐃𝐈𝐕𝐀𝐒𝐀
Hari ini menjadi hari dimana Allah SWT mengutus kekasihNya sebagai penyempurna akhlak manusia. Tabuh rebahan mengalun indah seirama. Keberadaannya membawa kebenaran dan kehadirannya menuntun kepada jalan kehidupan yang mulia.
Milad Nabi tak sekedar perayaan. Karena Rasulullah telah mengajarkan. Pedoman hidup untuk setiap insan. Akhlakul karimah yang harus diimplementasikan. Selamat menyambut Maulid Rasul 1444 Hijriah. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang amanah, sebagaimana sifat Nabi yang dapat dipercaya dan senantiasa memegang janjinya. #𝐃𝐈𝐕𝐀𝐒𝐀
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Halo, ini dengan Vados Podcast lagi. Bagaimana pekan ini? Apakah kalian menikmatinya? Besok adalah hari terakhir di bulan September ini. Selamat ulang tahun, untuk yang berulang tahun hari ini. Omong-omong, kalian pernah ditinggali tanpa pamit? Maksudku, kalian ditinggal seseorang selama-lamanya, padahal orang itu belum mengucapkan kata pamit yang sebenarnya. Kalau pernah, berarti nasib kalian sama dengan narasumber di Podcast kita ini. Yuk, dengarkan episode ini dengan seksama.
#𝐇𝐈𝐒𝐓𝐎𝐈𝐑𝐄
#𝐇𝐈𝐒𝐓𝐎𝐈𝐑𝐄
KAMU KEMANA? KAMU DIMANA?
Hey, aku ingin bercerita tentang kisah yang sudah lama terjadi, tapi tak lama juga. Ini kejadian satu tahun lalu. Di tahun 2022 yang sangat menyakitkan itu. Aku ingat betul tanggal kejadiannya, bahkan jam hingga menitnya pun aku ingat, saking membekas di pikiranku. Aku ingin melupakan, tapi setiap berpikiran tentang kejadian itu, aku menjadi sedih berkepanjangan.
Hey, aku ingin bercerita tentang kisah yang sudah lama terjadi, tapi tak lama juga. Ini kejadian satu tahun lalu. Di tahun 2022 yang sangat menyakitkan itu. Aku ingat betul tanggal kejadiannya, bahkan jam hingga menitnya pun aku ingat, saking membekas di pikiranku. Aku ingin melupakan, tapi setiap berpikiran tentang kejadian itu, aku menjadi sedih berkepanjangan.
Dia, dia dengan paras yang sangat keren. Dia dengan senyuman termanis yang pernah ada, mampu membuatku terjun ke dalam lautan gula. Dia dengan kata-kata yang sama sekali tak pernah menyakitiku, tutur kata yang lembut, merdu suaranya. Dia benar-benar definisi pria sejati. Aku dan dia berteman layaknya seorang Kakak dan Adik. Kami benar-benar seperti saudara kandung. Dia yang tak pernah absen ke rumahku, dan aku yang tak pernah absen untuk bermain dengannya. Dia asik, dia pria yang sangat seru, barang sekali kami pernah saling bertukar cerita, dia mengatakan kalau dia menyayangiku dengan sangat dan amat, aku membalasnya dengan candaan, dan kami tertawa bersama. Sungguh hangat dahulu itu.
Lalu, kehangatan itu berlepas tangan saat hari itu. Minggu, tanggal 17 Februari 2022. Malamnya, sekitar pukul delapan, aku meminta tolong padanya. Itu hal wajar yang sering terjadi. Aku meminta tolong padanya untuk membelikan aku makanan, karena di rumah tak ada apa-apa, dan aku sendirian. Aku juga sedang tak ingin keluar karena malas. Jadi, aku memintanya untuk membelikanku. Dan dia tanpa berat hati langsung mengiyakan permintaanku.
Aku menunggunya di rumah sembari menonton Televisi. Entah karena waktu yang sangat cepat atau memang dia yang lama, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Aku menelponnya berulang-ulang kali, tapi tak dijawab, ponselnya tidak aktif. Aku mencoba untuk menunggu lagi, mungkin dia sedang sibuk. Walaupun pikiranku itu tidak masuk logika. Aku melanjutkan untuk menonton Televisi, lalu, ada yang menelponku. Bundanya yang menelponku. Tanpa ragu aku mengangkat telepon tersebut.
Lalu, kehangatan itu berlepas tangan saat hari itu. Minggu, tanggal 17 Februari 2022. Malamnya, sekitar pukul delapan, aku meminta tolong padanya. Itu hal wajar yang sering terjadi. Aku meminta tolong padanya untuk membelikan aku makanan, karena di rumah tak ada apa-apa, dan aku sendirian. Aku juga sedang tak ingin keluar karena malas. Jadi, aku memintanya untuk membelikanku. Dan dia tanpa berat hati langsung mengiyakan permintaanku.
Aku menunggunya di rumah sembari menonton Televisi. Entah karena waktu yang sangat cepat atau memang dia yang lama, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Aku menelponnya berulang-ulang kali, tapi tak dijawab, ponselnya tidak aktif. Aku mencoba untuk menunggu lagi, mungkin dia sedang sibuk. Walaupun pikiranku itu tidak masuk logika. Aku melanjutkan untuk menonton Televisi, lalu, ada yang menelponku. Bundanya yang menelponku. Tanpa ragu aku mengangkat telepon tersebut.
Aku mengucapkan salam, lalu, ku dengar dari sebrang sana, suara tangis histeris terdengar bersahutan. Jantungku berdebar cepat, ada apa ini?
Lalu, hal yang tak pernah kuduga itu terdengar di telingaku. Kabar yang sangat meremas hatiku. Mendengar kabar tersebut, aku langsung bersiap dengan cepat dan meninggalkan rumah menuju tempat Bundanya.
Disana, rumah sakit itu, aku ingat sekali. Aku berlari di koridor menuju ruangan itu. Di ruangan tersebut, banyak orang berkumpul, menangisi sosok yang ditutupi kain putih itu. Kakiku bergetar hebat, tangisku ditahan mati-matian. Dengan tangan yang dingin, aku membuka perlahan kain putih itu. Wajah itu membuatku berteriak hingga hampir saja pingsan. Ya, dia, dia yang pergi. Dia yang meninggal kala itu. Aku tak karuan menahan rasa sesak. Aku tak menyangka semua itu bakal terjadi dengan cepat. Aku tak menyangka, dia yang diambil nyawanya. Aku sungguh tak menyangka ini semua.
Lalu, hal yang tak pernah kuduga itu terdengar di telingaku. Kabar yang sangat meremas hatiku. Mendengar kabar tersebut, aku langsung bersiap dengan cepat dan meninggalkan rumah menuju tempat Bundanya.
Disana, rumah sakit itu, aku ingat sekali. Aku berlari di koridor menuju ruangan itu. Di ruangan tersebut, banyak orang berkumpul, menangisi sosok yang ditutupi kain putih itu. Kakiku bergetar hebat, tangisku ditahan mati-matian. Dengan tangan yang dingin, aku membuka perlahan kain putih itu. Wajah itu membuatku berteriak hingga hampir saja pingsan. Ya, dia, dia yang pergi. Dia yang meninggal kala itu. Aku tak karuan menahan rasa sesak. Aku tak menyangka semua itu bakal terjadi dengan cepat. Aku tak menyangka, dia yang diambil nyawanya. Aku sungguh tak menyangka ini semua.
Ingin sekali rasanya aku memutar kembali waktu. Ingin rasanya aku mengatur ulang semuanya. Penyesalan di akhir benar adanya. Hingga detik ini pun, aku masih berandai-andai, andai semuanya tak terjadi. Andai aku tak memintanya untuk pergi. Andai saja aku ikut bersamanya. Andai saja. Hingga detik ini pun, aku masih merasakan rasa bersalah yang teramat. Tangisku tak bisa dibendung lagi jika mengingat dirinya.
Hey, dia yang menemaniku lima tahun berturut-turut. Dia yang selalu memahamiku. Dia yang berjanji akan bersamaku hingga aku sukses. Tapi, sekarang, dia yang pergi terlebih dahulu. Kata saksi mata, dia kecelakaan karena tabrak lari dengan sebuah truk besar. Dia tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan. Kepalanya bocor dan mengeluarkan begitu banyak darah. Akibat dari sana, dia pergi.
Aku sungguh menyesal, penyesalan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Setiap hari aku mengunjungi makamnya hanya untuk mengatakan maaf dan maaf. Rindu? Tentu. Ikhlas? Jika disuruh ikhlas, maaf, aku belum bisa. Aku belum sempat mengatakan kata pamit dengan benar, dia pun begitu. Kami belum berpamitan. Walaupun, dia sudah menjengukku lewat mimpi. Tapi, sama saja. Jika disuruh rela, tidak, belum. Nanti saja.
Hingga sekarang, aku masih terus merasa bersalah dan selalu mendoakannya yang terbaik. Aku rindu saja dengan suara dan senyumnya itu. Aku rindu semuanya tentang dia. Aku minta doa dari kalian semua, ya?
Hey, dia yang menemaniku lima tahun berturut-turut. Dia yang selalu memahamiku. Dia yang berjanji akan bersamaku hingga aku sukses. Tapi, sekarang, dia yang pergi terlebih dahulu. Kata saksi mata, dia kecelakaan karena tabrak lari dengan sebuah truk besar. Dia tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan. Kepalanya bocor dan mengeluarkan begitu banyak darah. Akibat dari sana, dia pergi.
Aku sungguh menyesal, penyesalan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Setiap hari aku mengunjungi makamnya hanya untuk mengatakan maaf dan maaf. Rindu? Tentu. Ikhlas? Jika disuruh ikhlas, maaf, aku belum bisa. Aku belum sempat mengatakan kata pamit dengan benar, dia pun begitu. Kami belum berpamitan. Walaupun, dia sudah menjengukku lewat mimpi. Tapi, sama saja. Jika disuruh rela, tidak, belum. Nanti saja.
Hingga sekarang, aku masih terus merasa bersalah dan selalu mendoakannya yang terbaik. Aku rindu saja dengan suara dan senyumnya itu. Aku rindu semuanya tentang dia. Aku minta doa dari kalian semua, ya?