ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selamat Malam, subscriber Mas. Apa kabar? Semoga dalam keadaan yang baik ya. Jangan lupa untuk tetap selalu bersyukur dan stay safe dimanapun kalian berada. Oh ya, izinkan memperkenalkan diri, saya Agip dan saya ingin membahas beberapa hal yang saya dapatkan dari situs web, Mengapa Rasisme Melahirkan Ketidaksetaraan dan Kekerasan? Nah, ingin tahu? Stay tune!
#arbriter
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Selamat Malam, subscriber Mas. Apa kabar? Semoga dalam keadaan yang baik ya. Jangan lupa untuk tetap selalu bersyukur dan stay safe dimanapun kalian berada. Oh ya, izinkan memperkenalkan diri, saya Agip dan saya ingin membahas beberapa hal yang saya dapatkan dari situs web, Mengapa Rasisme Melahirkan Ketidaksetaraan dan Kekerasan? Nah, ingin tahu? Stay tune!
#arbriter
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Mari kita mulai, semoga bermanfaat dan siapkan teh hangat biar enak sambil membaca nanti.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Mari kita mulai, semoga bermanfaat dan siapkan teh hangat biar enak sambil membaca nanti.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Intan Marbun (2,5 tahun) adalah salah satu korban yang meninggal dunia dalam aksi kekerasan di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur pada tanggal 13 November 2016. Respon atas kekerasan ini bervariasi. Mulai dari kecaman di media sosial hingga gerakan sosial berupa penyalaan 1.000 lilin di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta dan di kota Samarinda. Walaupun respon ini dilakukan oleh sedikit kelompok, namun bisa menjadi acuan penting tentang reaksi masyarakat atas kekerasan tersebut.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Intan Marbun (2,5 tahun) adalah salah satu korban yang meninggal dunia dalam aksi kekerasan di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur pada tanggal 13 November 2016. Respon atas kekerasan ini bervariasi. Mulai dari kecaman di media sosial hingga gerakan sosial berupa penyalaan 1.000 lilin di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta dan di kota Samarinda. Walaupun respon ini dilakukan oleh sedikit kelompok, namun bisa menjadi acuan penting tentang reaksi masyarakat atas kekerasan tersebut.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Pesan atas gerakan sosial ini juga bervariasi, namun pada umumnya menyerukan penghentian kekerasan dan perpecahan di Indonesia. Sayangnya, respon banyak ditujukan kepada aksi pengeboman semata. Sorotan media dan masyarakat pun ditujukan kepada pelaku dari sudut pandang kekerasan vertikal antar individu. Tentu tidak ada yang salah dengan hal itu, namun melihat kekerasan ini sebagai bentuk kekerasan individu ke individu lainnya secara vertikal saja tidaklah juga dapat menjadi respon yang paling tepat.
ㅤㅤㅤㅤㅤ
Pesan atas gerakan sosial ini juga bervariasi, namun pada umumnya menyerukan penghentian kekerasan dan perpecahan di Indonesia. Sayangnya, respon banyak ditujukan kepada aksi pengeboman semata. Sorotan media dan masyarakat pun ditujukan kepada pelaku dari sudut pandang kekerasan vertikal antar individu. Tentu tidak ada yang salah dengan hal itu, namun melihat kekerasan ini sebagai bentuk kekerasan individu ke individu lainnya secara vertikal saja tidaklah juga dapat menjadi respon yang paling tepat.
ㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
1. Ketidaksetaraan Horizontal : Sumbu usang namun ampuh bagi kekerasan vertikal.
Frances Stewart, Graham Brown dan Luca Mancini di tahun 2005 pernah melakukan penelitian tentang mengapa pentingnya melihat ketidaksetaraan horizontal di Indonesia. Mereka menilai bahwa ketidaksetaraan horizontal menjadi salah satu faktor penting atas kekerasan vertikal yang terjadi. Mereka mendefinisikan ketidaksetaraan horizontal sebagai ketidakadilan antar kelompok.
Kelompok ini bisa bervariasi mulai dari kelompok yang didasarkan karena persaman etnis, ras, agama, gender atau usia. Tidak jarang satu individu bisa masuk ke lebih dari satu bagian kelompok tertentu. Kelompok-kelompok ini pun memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada kelompok yang berafiliasi dengan batasan yang sangat ketat (fleksibilitas perubahan anggota lebih sempit).
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
1. Ketidaksetaraan Horizontal : Sumbu usang namun ampuh bagi kekerasan vertikal.
Frances Stewart, Graham Brown dan Luca Mancini di tahun 2005 pernah melakukan penelitian tentang mengapa pentingnya melihat ketidaksetaraan horizontal di Indonesia. Mereka menilai bahwa ketidaksetaraan horizontal menjadi salah satu faktor penting atas kekerasan vertikal yang terjadi. Mereka mendefinisikan ketidaksetaraan horizontal sebagai ketidakadilan antar kelompok.
Kelompok ini bisa bervariasi mulai dari kelompok yang didasarkan karena persaman etnis, ras, agama, gender atau usia. Tidak jarang satu individu bisa masuk ke lebih dari satu bagian kelompok tertentu. Kelompok-kelompok ini pun memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada kelompok yang berafiliasi dengan batasan yang sangat ketat (fleksibilitas perubahan anggota lebih sempit).
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Menjadi anggota kelompok tertentu membawa individu kepada perlakuan yang berbeda-beda daripada kelompok lain (diskriminasi salah satunya). Menjadi anggota kelompok tertentu juga bisa merupakan sebuah identitas yang penting dan dirasakan memiliki kontribusi yang sangat signifikan kepada masyarakat.
Sayangnya, tidak semua kelompok yang ada berposisi setara. Kemiskinan, keterpinggiran, diskriminasi serta stigma terhadap kelompok tertentu membuat individu anggota kelompok tersebut mengalami kekerasan bahkan lebih dari apa yang dialami oleh kelompok itu sendiri. Akumulasi dari ketidaksetaraan, kekerasan serta perlakuan berbeda ini membuat individu/anggota kelompok mencari berbagai jalan keluar. Salah satunya yakni; kekerasan atau teror.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Menjadi anggota kelompok tertentu membawa individu kepada perlakuan yang berbeda-beda daripada kelompok lain (diskriminasi salah satunya). Menjadi anggota kelompok tertentu juga bisa merupakan sebuah identitas yang penting dan dirasakan memiliki kontribusi yang sangat signifikan kepada masyarakat.
Sayangnya, tidak semua kelompok yang ada berposisi setara. Kemiskinan, keterpinggiran, diskriminasi serta stigma terhadap kelompok tertentu membuat individu anggota kelompok tersebut mengalami kekerasan bahkan lebih dari apa yang dialami oleh kelompok itu sendiri. Akumulasi dari ketidaksetaraan, kekerasan serta perlakuan berbeda ini membuat individu/anggota kelompok mencari berbagai jalan keluar. Salah satunya yakni; kekerasan atau teror.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Di banyak negara dilakukan dengan berbagai cara untuk mengukur dan mengatasi ketidakadilan horizontal ini. Contohnya, di Amerika Serikat ketidaksetaraan yang secara sistematis terjadi terhadap masyarakat kulit hitam dicoba dikurangi dengan kebijakan affirmative action (kebijakan afirmatif). Beberapa negara memberikan kelompok perempuan quota lebih dibanding lelaki untuk mengakses ruang publik dan bidang profesional.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Di banyak negara dilakukan dengan berbagai cara untuk mengukur dan mengatasi ketidakadilan horizontal ini. Contohnya, di Amerika Serikat ketidaksetaraan yang secara sistematis terjadi terhadap masyarakat kulit hitam dicoba dikurangi dengan kebijakan affirmative action (kebijakan afirmatif). Beberapa negara memberikan kelompok perempuan quota lebih dibanding lelaki untuk mengakses ruang publik dan bidang profesional.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
2. Aksi menentang homophobia di Jakarta, Mei 2008.
Persoalan mendasar dalam relasi kuasa dan relasi massa adalah pelanggengan atau toleransi atas perbedaan peluang (akses) dalam berbagai dimensi sosial, ekonomi dan politik. Oleh negara, keterbatasan akses ini dijadikan bagian dari sistem yang bersifat diskriminatif.
Tambahan lagi, kejahatan atas diskriminasi tersebut dipelihara, dipupuk dan pada saat yang sama disangkal hadir dalam wacana publik maupun sistem hukum. Tindakan diskriminatif diaminkan dan tidak berusaha diselesaikan secara tuntas. Akhirnya, keterbatasan akses dianggap sebagai nasib dan bukan sebagai persoalan hukum, ekonomi dan politik.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
2. Aksi menentang homophobia di Jakarta, Mei 2008.
Persoalan mendasar dalam relasi kuasa dan relasi massa adalah pelanggengan atau toleransi atas perbedaan peluang (akses) dalam berbagai dimensi sosial, ekonomi dan politik. Oleh negara, keterbatasan akses ini dijadikan bagian dari sistem yang bersifat diskriminatif.
Tambahan lagi, kejahatan atas diskriminasi tersebut dipelihara, dipupuk dan pada saat yang sama disangkal hadir dalam wacana publik maupun sistem hukum. Tindakan diskriminatif diaminkan dan tidak berusaha diselesaikan secara tuntas. Akhirnya, keterbatasan akses dianggap sebagai nasib dan bukan sebagai persoalan hukum, ekonomi dan politik.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
3. Pembunuh terselubung bagi kedaulatan negara dan individu.
Rasisme adalah paham atau keyakinan tentang superioritas atau inferioritas kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Paham ini sangat ampuh but memporak-porandakan negara-negara besar, seperti di Jerman atau Amerika Serikat. Di Afrika Selatan, terjadi rasisme dalam wujud apartheid.
Terorisme, kekerasan rasial serta konflik berlatarbelakang agama dan etnis telah terjadi sejak lama di Indonesia. Terlebih lagi, sistem Orde Baru yang dibangun berpuluh-puluh tahun telah membentuk sistem pembatasan akses terhadap kelompok tertentu. Sistem inilah yang tampaknya sekarang masih tetap ada dan dimanfaatkan sekelompok orang.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
3. Pembunuh terselubung bagi kedaulatan negara dan individu.
Rasisme adalah paham atau keyakinan tentang superioritas atau inferioritas kelompok tertentu terhadap kelompok lain. Paham ini sangat ampuh but memporak-porandakan negara-negara besar, seperti di Jerman atau Amerika Serikat. Di Afrika Selatan, terjadi rasisme dalam wujud apartheid.
Terorisme, kekerasan rasial serta konflik berlatarbelakang agama dan etnis telah terjadi sejak lama di Indonesia. Terlebih lagi, sistem Orde Baru yang dibangun berpuluh-puluh tahun telah membentuk sistem pembatasan akses terhadap kelompok tertentu. Sistem inilah yang tampaknya sekarang masih tetap ada dan dimanfaatkan sekelompok orang.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ