𝗡𝟮𝟭 | 𝗦𝗔𝗟𝗩𝗔 𝗡𝗔 𝗖𝗢𝗦𝗔
136 subscribers
54 photos
9 videos
14 files
7 links
Download Telegram
Dalam tesis yang ditulis David Ricardo Inniss, Daddy Issue diartikan sebagai kurangnya keseimbangan emosional dan psikologis dan/atau depresi kinerja kognitif yang berakar pada pengalaman yang terkait dengan ketidakhadiran seorang ayah. Innis meyakini bahwa figur ayah sangat penting bagi perkembangan anak-anak dan ayah adalah panutan yang paling genting bagi seorang laki-laki.

Awalnya ide mengenai Daddy Issue hanya terbatas pada hubungan antara anak perempuan dan ayahnya. Namun, studi lebih lanjut menemukan bahwa anak laki-laki juga tidak luput dari permasalahan daddy issue. Meskipun manifestasinya mungkin berbeda dan terkadang tidak, laki-laki juga dipengaruhi oleh trauma yang ditimbulkan oleh figur ayah.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Penyebab Daddy Issues

Daddy issues dapat disebabkan karena masalah keterikatan (attachment) yang dialami seseorang. Teori keterikatan berpusat pada dampak dari hubungan manusia, khususnya anak-anak dan pengasuhnya.

Teori keterikatan yang dicetus John Bowlby adalah gaya keterikatan seseorang di masa kanak-kanak sangat memengaruhi gaya keterikatannya saat dewasa. 

Gaya keterikatan yang aman dibentuk dari seorang pengasuh responsif terhadap kebutuhan anak dan tersedia secara emosional. Gaya keterikatan yang tidak aman, di sisi lain, dihasilkan dari pengasuh yang tidak responsif terhadap kebutuhan anak dan tidak tersedia secara emosional.

Akibatnya, mereka yang merasa aman dan terjamin serta memiliki gaya keterikatan aman pada masa kanak-kanak akan terus memiliki gaya keterikatan aman saat dewasa.
Sebaliknya, jika seorang individu merasa tidak aman sebagai seorang anak, mereka akan mengembangkan salah satu dari tiga gaya keterikatan yang tidak aman di masa dewasa.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Mengutip verywellmind, ada tiga tipe gaya keterikatan tidak aman yang dimiliki seorang dengan daddy issues.

1. Anxious-preoccupied

Seorang dengan tipe ini biasanya sangat manja dan banyak menuntut. Mereka takut pasangannya tidak ada ketika dibutuhkan.

2. Fearful-avoidant

Seorang membentuk hubungan yang intim, tetapi sulit untuk mempercayai pasangannya karena takut terluka. Ini bisa membuat mereka jauh dan terpisah.

3. Dismissive-avoidant


Mereka yang memiliki gaya keterikatan ini lebih memilih untuk menghindari membentuk hubungan dekat dan tantangan emosional yang mereka bawa
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Daddy issues memang bukan masalah kesehatan mental, tetapi kondisi ini bisa memengaruhi pola pikir, sikap, karakter, dan perilaku seseorang.

Daddy issues juga bisa memengaruhi hubungan romantis atau percintaan orang yang mengalaminya.

Berikut ini adalah beberapa tanda seseorang mengalami daddy issues :

1. Tertarik pada orang yang lebih tua

Seseorang yang mengalami daddy issues biasanya cenderung lebih tertarik untuk menjalin hubungan romantis, baik pacaran atau menikah, dengan orang yang usianya lebih tua.
Ini karena mereka mendambakan kehadiran sosok ayah atau father figure yang bisa memberikan perhatian, kasih sayang, dan rasa aman, yang tidak mereka dapatkan pada masa anak-anak.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
2. Selalu butuh kepastian dan perhatian

Saat menjalani sebuah hubungan, orang yang mengalami daddy issues kerap kali merasa insecure dan takut akan ditinggalkan oleh pasangannya.
Pasalnya, mereka cenderung sulit untuk mempercayai orang lain dan hal ini akan mendorong mereka untuk selalu menuntut kepastian, perhatian, dan kasih sayang dari pasangannya secara terus-menerus. Orang yang memiliki daddy issues juga biasanya akan merasa sangat bergantung pada pasangannya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
3. Cenderung bersifat posesif

Karena tidak dibesarkan dalam keluarga yang sempurna, orang yang memiliki daddy issues biasanya akan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan hubungannya. Mereka bahkan akan mencoba untuk menjadi pribadi yang “sempurna” agar tidak ditinggalkan oleh orang kesayangannya.
Namun terkadang, usaha tersebut dilakukan secara berlebihan, sehingga mereka kerap kali mencurigai pasangannya, mudah cemburu, atau bahkan bersikap posesif, seperti melarang pasangannya berteman dengan lawan jenis, atau mengecek ponsel pasangannya setiap waktu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
4. Tidak suka sendiri dan mudah kesepian

Orang yang memiliki daddy issues umumnya juga tidak suka kesendirian dan tidak nyaman ketika menghabiskan waktu seorang diri. Mereka pun bisa mudah merasa kesepian, jika tidak memiliki partner hidup yang bisa memberi perhatian dan mengayomi mereka.
Oleh karena itu, mereka akan selalu mencari cara untuk terus berada dalam suatu hubungan, baik dengan mempertahankan hubungan yang ada maupun mencari hubungan yang baru.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
5. Takut sendirian

Dari pada melajang, seorang dengan daddy issues beranggapan lebih baik dalam hubungan yang tidak sehat. Ia akan terus lompat sana-sini dan terus gonta ganti pasangan agar tidak merasa sendirian.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
6. Memiliki hubungan yang rumit dengan Ayah

Salah satu ciri paling jelas dari daddy issues adalah memiliki hubungan yang rumit dengan ayah sendiri. Misalnya tidak ada sosok ayah sejak masih anak-anak dan memiliki ayah yang kejam.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Cara Mengatasi Daddy Issues

Menurut terapis hubungan dan seks Caitlin Cantor, ada beberapa cara untuk mengatasi daddy issues, dikutip dari verywellmind.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
1. Akui

Cantor menjelaskan ketika anak-anak tumbuh tanpa kasih sayang, mereka akan percaya bahwa mereka tidak pantas untuk mendapatkannya. Keyakinan ini akan terus melekat sampai dewasa.

Penting untuk mengakui bagaimana rumitnya hubungan Bunda dengan ayah sehingga dapat merubah beberapa keyakinan yang ditanam sejak kecil.

2. Ratapi

Setelah menerima keadaan, biarkan diri merasakan rasa sakit dari hubungan negatif dengan ayah dan ratapi apa yang tidak dapat Bunda rasakan selama ini. Menurut Cantor, ini adalah saat yang tepat untuk marah dan sedih atas masa kecil.

3. Pelajari

Terakhir, setelah menerima dan meratapi, saatnya untuk belajar dari hal tersebut agar tidak membiarkan permasalahan keterikatan di masa kecil memiliki pengaruh pada hubungan saat dewasa.