This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/enter the room; take a seat; adjust the microphone slightly; glance at the camera; smile briefly/
π: heyyo, whatβs up Astors? selamat malam. kembali lagi bersama saya, Rhys, yang akan menemani kalian di podcast malam ini.
π: malam ini, saya ingin membawa kalian ke sebuah kota kecil di Eropa pada abad ke-16, tempat sebuah peristiwa aneh dan sulit dijelaskan pernah terjadi. ini bukan tentang pemberontakan, bukan pula wabah penyakit seperti yang sering kita dengar, melainkan tentang orang orang yang menari, dan tidak bisa berhenti.
π: Astors, apakah kalian pernah membayangkan satu orang menari ditengah jalan tanpa musik dan tanpa alasan yang jelas, lalu terus melakukannya selama berjam jam? sekarang bayangkan keesokan harinya jumlahnya bertambah. lalu dalam hitungan minggu, puluhan orang menari tanpa henti hingga pingsan, bahkan meninggal.
inilah kisah "THE DANCING PLAGUE 1518".
β€βπ₯2β‘1π₯1π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ ππͺππ ππππππππ‘ γγ €γ €γ €γ €γ €
βΆ peristiwa ini terjadi pada Juli 1518 di kota Strasbourg, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci, wilayah yang kini masuk dalam Prancis modern. semuanya bermula dari seorang perempuan bernama Frau Troffea. suatu hari, ia keluar ke jalan dan mulai menari. bukan tarian yang teratur, bukan pula pertunjukan. ia menari tanpa henti, tanpa irama yang jelas.
βΆ awalnya orang-orang mengira itu hanya perilaku aneh biasa. namun, Frau Troffea tidak berhenti. ia terus bergerak selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. tubuhnya kelelahan, tetapi ia tetap menari. dalam waktu satu minggu, sekitar 30 orang ikut menari bersamanya. dan dalam sebulan, jumlahnya mencapai ratusan.
π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
γ €γ π¦ππ§π¨ππ¦π π¬ππ‘π π¦ππ ππππ‘ π ππ‘πππ₯ππππ‘ γ
βΆ kondisi ini semakin tidak terkendali. orang-orang menari tanpa bisa berhenti, siang dan malam. beberapa diantaranya pingsan karena kelelahan ekstrem. ada yang mengalami serangan jantung, stroke, bahkan meninggal akibat tubuh yang dipaksa bergerak terus-menerus.
βΆ yang lebih mengejutkan, pemerintah kota saat itu justru percaya bahwa satu-satunya cara untuk βmenyembuhkanβ mereka adalah dengan membiarkan mereka menari sampai sembuh. mereka bahkan menyediakan panggung dan memanggil musisi untuk mengiringi para penari tersebut, dengan harapan penyakit itu akan keluar melalui tarian.
βΆ keputusan ini tentu saja memperburuk keadaan. alih-alih berhenti, jumlah penari justru bertambah.
π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
γ €γ €γ ππ£π π¬ππ‘π π¦ππππ‘ππ₯π‘π¬π π§ππ₯ππππ? γ
βΆ hingga hari ini, tidak ada jawaban pasti mengenai penyebab peristiwa ini. beberapa teori menyebut kemungkinan keracunan ergot jamur beracun pada gandum yang dapat menimbulkan kejang dan halusinasi. namun teori ini dianggap kurang kuat, karena para korban mampu menari selama berhari-hari, sesuatu yang sulit terjadi dalam kondisi keracunan berat.
βΆ teori lain yang lebih banyak diterima adalah histeria massal atau mass psychogenic illness. saat itu, Strasbourg dilanda kelaparan, wabah penyakit, dan tekanan sosial yang berat. masyarakat hidup dalam kecemasan ekstrem. dalam kondisi seperti itu, stres kolektif dapat memicu reaksi fisik yang nyata dan tak terkendali.
βΆ tubuh mereka mungkin terus bergerak tetapi sumbernya bisa jadi bukan racun melainkan tekanan mental yang luar biasa.
π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ πππππ₯ πͺππππ γγ €γ €γ €γ €γ €γ €
βΆ setelah beberapa minggu yang mencekam, para penari akhirnya dibawa ke tempat suci untuk menjalani ritual keagamaan. perlahan, wabah ini mereda. satu per satu berhenti menari. kota kembali tenang, tetapi pertanyaan besar tetap tertinggal.
βΆ berapa banyak yang benar-benar meninggal? catatan sejarah berbeda-beda, namun beberapa sumber menyebut puluhan orang kehilangan nyawa akibat kelelahan ekstrem selama periode tersebut.
π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ €γ ππππ§π π ππ‘ππ₯ππ γγ €γ €γ €γ €γ €γ €γ €
βΆ The Dancing Plague 1518 bukan satu-satunya kasus dalam sejarah Eropa. ada beberapa kejadian serupa di abad pertengahan, meskipun tidak sebesar yang terjadi di Strasbourg.
βΆ peristiwa ini sering dijadikan contoh bagaimana tekanan sosial dan ketakutan kolektif dapat memengaruhi perilaku manusia secara massal. bukan karena tubuh yang sakit, tetapi karena pikiran yang terlalu lama menahan beban.
π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
/look at the camera ; smile at the camera ; start talking/
π : nah Astors, itulah kisah tentang Dancing Plague of 1518. sebuah peristiwa yang mengingatkan bahwa ancaman terbesar kadang bukan datang dari peperangan, melainkan dari tekanan yang perlahan menumpuk dalam diri manusia.
π : terima kasih sudah menemani saya di setiap malam dan setiap cerita yang kita bahas disini. mungkin podcast ini berakhir, tetapi cerita tidak pernah benar-benar selesai.
π : malam ini adalah episode terakhir saya bersama kalian, Astors. mungkin saya tidak lagi hadir di episode berikutnya, tetapi kisah-kisah yang pernah kita bagikan akan tetap ada.
π : saya Rhys pamit undur diri. terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan ini.
π : selamat malam, Astors.
/turn off the camera; get up from the chair; leave the podcast room/
β€βπ₯2π1π1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM